Celotehan Linda
Linda Djalil memang benar-benar sudah membuktikan dirinya, tidak betul-betul pensiun jadi wartawan. Buku ini adalah salah satu wujudnya. Seperti disampaikan oleh Bondan Winarno dalam kata pengantar buku yang baru terbit akhir Juni 2012 tersebut, Wartawan tetap akan menulis sampai akhir hayat. Dan begitulah, rangkaian tulisan mantan jurnalis majalah TEMPO dan GATRA itu dalam buku ini tidak sekedar menunjukkan eksistensi seorang Linda Djalil dalam dunia penulisan namun lebih dari itu, era jurnalisme warga yang berkembang via internet sekarang menjadi sebuah media menuangkan opini dan ekspresi tentang banyak hal seputar kehidupan, dan disini, gelegak nyali dan naluri kewartawanannya mendapat tempat penyaluran-nya.
Tulisan dalam buku Celotehan Linda ini tidak hanya menuangkan sejumlah pengalamannya juga pengamatan kritisnya pada fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Sebagian besar isi buku ini merupakan tulisan-tulisan Linda Djalil di blog Kompasiana dan juga di blog pribadinya. Penyampaiannya lugas dan sistematis. Gaya bahasa ala ibu satu anak dalam tulisannya begitu nikmat dicerna. Kita seakan diajak duduk berdua bersamanya, bercengkrama, bercakap dengan nyaman sembari menikmati teh manis panas serta biskuit, melihatnya bercerita dengan ekspresi beragam, sembari menyaksikan senja yang luruh di batas cakrawala. Mulai dari kisah seram angkernya Istana Presiden, Anas Urbaningrum yang pinjam mobil teman, bagaimana ketika mantan Pangkopkamtib alm.Sudomo marah, sampai kenangan masa kecilnya yang indah, tersaji apik pada buku ini. Saya sungguh beruntung mengenal sosok beliau melalui interaksi diblog Kompasiana bahkan kemudian bisa hadir pada peluncuran buku ini minggu lalu.
Tidak tersedia versi lain